Kuliah Umum MSI 2016

Jakarta, MSI – Kita perlu memanfaatkan keunggulan dan potensi kekayaan maritim Indonesia lebih optimal. Infrastruktur hukum, sumber daya, baik alam maupun manusia adalah modal dasar yang perlu dirawat jika hendak merealisasikan misi menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Sebagai langkah strategis, visi kelautan Indonesia perlu diarahkan pada tiga dimensi: ke samudera luas, ke udara dan angkasa luar, serta ke dasar samudera dan tanah di bawahnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah harus lebih serius mengembangkan sektor ilmiah, teknologi, dan tata kelola sumber daya kemaritiman.

Demikian kesimpulan seminar nasional bertajuk “Wawasan Nusantara: Refleksi Historis dan Perspektif Masa Depan” di Museum Nasional, Jakarta, Sabtu (17/12). Seminar yang diselenggarakan Pengurus Pusat MSI sebagai bagian dari peringatan Hari Sejarah Nasional pada 14 Desember 2016, menampilkan pembicara tunggal, Prof. Dr. Hasjim Djalal dengan moderator Bondan Kanumuyoso. Peserta yang hadir mencapai sekitar 200 hadiri mewakili berbagai kalangan seperti mahasiswa, peneliti, kelompok asosiasi, aktivis, guru sejarah, dosen dan pers.

Dalam paparannya, Prof. Dr. Hasjim Djalal menegaskan bahwa sebagai negara maritim, Indonesia harus mampu memanfaatkan beragam aspek kelautan yang dimiliki. Namun itu saja belum cukup. Indonesia juga perlu mengembalikan semangat kemaritiman agar mampu memainkan kembali peranan dan posisinya yang penting di kawasan samudera Hindia dan samudera Pasifik, seperti yang pernah dilakukan sejak berabad-abad lalu.

Tidak hanya di samudera, Indonesia, menurut Hasjim Djalal, juga harus mampu memanfaatkan potensi-potensi yang ada di Antartika dan di angkasa luar serta di dasar samudera. Ia mengingatkan, Singapura telah memiliki hak mengekploitasi kekayaan mineral di dasar laut dari Hawai hingga pesisir barat Meksiko. Begitu juga India yang kini telah memiliki hak untuk mengekploitasi mineral di dasar laut Samudra Hindia. Hak serupa dimiliki Tiongkok dengan lokus wilayah di dasar laut Samudra Hindia, serta Australia yang telah mengeksploitasi mineral di dasar laut sekitar negara-negara pulau di Pasifik Selatan seperti Nauru, Kiribat, dan Tonga.

Seminar nasional ini merupakan kegiatan pertama yang dilakukan Pengurus Pusat MSI sejak diresmikan pada 6 Desember 2016. Sesuai rencana, kegiatan serupa akan kembali diadakan dengan mengundang tokoh-tokoh sejarah yang berkompeten dalam bidangnya.

Kuliah Umum dan Diskusi Buku – Universitas Negeri Medan

 

Bagi rekan-rekan dosen, mahasiswa dan peminat sejarah di Medan, dalam waktu dekat akan ada kegiatan menarik kuliah umum yang akan disampaikan David Reeve, penulis buku Angkot dan Bus Minangkabau: Budaya Pop dan Nilai-Nilai Budaya Pop terbitan Komunitas Bambu (2017), di Digilib Unimed, Lt. 4 Pukul 09.00 WIB – Selesai.

Selain buku barunya tersebut, David Reeve telah menerbitkan buku tentang Golkar sebagai karya disertasi yang ditulis pada dekade 1980an. Karya itu telah terbit dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Golkar: Sejarah yang hilang. Akar Pemikiran dan Dinamika (2013).  David Reeve juga sekarang tengah menyiapkan karya lain tentang Onghokham berdasarkan penelitian yang telah dilakukannya sejak satu dekade lalu.   

The Malay World Conference