Menafsir Ulang Sejarah Amerika Pasca 9/11

Eric Foner adalah Professor De Witt Clinton di Universitas Columbia dan salah seorang sejarawan terkemuka Amerika Serikat. Salah satu karyanya, The Fiery Trial: Abraham Lincoln and American Slavery meraih penghargaan Bancroft Prize dan Pulitzer Prize 2010 dalam bidang sejarah di Amerika. Selain mengajar, Foner menjadi presiden tiga organisasi sejarawan di Amerika, yaitu Organization of American Historians, American Historical Association dan Society of American Historians. Tulisan ini diterjemahkan dari esainya berjudul  “Rethinking American History in a post-9/11 World” dalam http://www.ericfoner.com/articles atas seizin penulis.


 

Tahun 1948. Perang Dunia II baru saja berakhir. Tidak lama kemudian, Roy F. Nichols, sejarawan ahli Perang Saudara di Amerika, menulis esai pendek membahas pengaruh perang itu terhadap generasi sejarawan Amerika, termasuk pengaruhnya terhadap orientasi studi sejarah. Setengah meramal, Nichols menyatakan bahwa PD II menjadi dasar “reorientasi (baru) pemikiran sejarah” Amerika. “Setiap guncangan besar dalam dunia tindakan dan intelek,” tulis Nichols, “senantiasa berpengaruh terhadap metode dan pola pikir sejarawan. Begitu juga dengan perang yang baru usai.”

Continue reading

Refleksi tentang Peristiwa G30S (GESTOK) 1965 dan Akibat-Akibatnya

Ibu Pertiwi dalam Keadaan Hamil Tua

Tulisan ini dimulai dengan latar belakang atau zaman ketika peristiwa G30S terjadi sebab hanya dengan latar belakang ini orang dapat mengerti peristiwa tersebut dan akibat-akibatnya. Kemudian kita akan melihat peristiwa percobaan coup d’etat G30S itu sendiri. Bagian ketiga dari tulisan ini tentang akibat peristiwa tersebut yakni perang saudara yang khususnya melanda Jawa-Bali pada tahun I965-l966.

Continue reading

Onghokham: Menjadi Indonesia dan Terus Menjadi

Koleksi album foto Onghokham/Penulis

Menelusuri kembali pemikiran Onghokham (1933 – 2007) dan mencari jejak sumbangannya terhadap historiografi Indonesia, segera menghadapkan kita pada sejumlah peringatan. Pertama, setelah menyelesaikan disertasinya tentang perubahan sosial di perdesaan Madiun yang diselesaikannya di Universitas Yale tahun 1975, Ong tidak lagi membuat karya utuh yang mewakili pemikirannya tentang sejarah Indonesia. David Reeve, yang sekarang menulis buku biografi tentang Ong menyebut alasan bahwa posisinya yang tiba-tiba menjadi “mini-selebriti” pada dekade 1980an dan 1990an menjadi faktor yang menyumbang ketiadaan pemikiran lengkap Ong tentang sejarah Indonesia.[1]

Continue reading

Tepian Langit Edward Poelinggomang

KEMATIAN seorang sejarawan bukanlah kematian yang direspon serentak di berbagai media sosial. Kematian seorang pencatat peristiwa yang lampau dan nyaris lenyap di ingatan bukanlah kematian yang ditangisi banyak orang. Bagi banyak orang, kematian itu akan menjadi ingatan yang perlahan menguap, lalu tenggelam disaput oleh angin sejarah. Beda halnya dengan kematian seorang pesohor ataupun selebriti. Continue reading