Mohammad Hatta: Biografi Politik

Deliar Noer, Mohammad Hatta: Biografi Politik. Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LPSES), Jakarta, 1990. 778 hlm. Bibliografi, Indeks, Foto.


BIOGRAFI adalah prisma sejarah, demikian pernah dikatakan. Dan ini, berlaku bagi biografi Bung Hatta.

Lahir di Bukittinggi (12 Agustus 1902), meninggal di Jakarta (14 Maret 1980), masa hidupnya 78 tahun, berada di dalam masa transisi masyarakat Indonesia.

Penulis biografi karena itu membagi masa hidup Bung Hatta dalam tahapan sesuai dengan perubahan masyarakat Indonesia yang umum telah diterima sebagai masa pergerakan kebangsaan (1900-1942), masa pendudukan militer Jepang (1942-1945), masa revolusi (1945-1949), masa demokraSi parlementer (1950-1957), masa Demokrasi Terpimpin (1957-1966), dan masa Orde Baru (1966 – sampai Wafatnya pada tahun 1980).

Masa transisi masyarakat Indonesia menentukan corak pemikiran dan kegiatan Bung Hatta. Banyak yang dituangkan dalam bentuk tulisan, terutama di masa Perhimpunan Indonesia, tentang perjuangan dan, gagasan Indonesia Merdeka, Kebangsaan Indonesia, Sosialisme, Tata Susunan Ekonomi Dunia, Politik Kolonial, Kerja Sama Internasional Bangsa-bangsa Terjajah, Koperasi dan Pembangunan Ekonomi, Kedaulatan Rakyat (Demokrasi), tentang Moral dan Etika Agama Islam “dalam rangka pelaksanaan Dasar Negara: Pancasila. Ini dipertahankan dengan teguh selama hidupnya, membuat Bung Hatta bagian dari “jiwa bangsa”.

Bung Hatta giat dalam organisasi pemuda,. pemimpin pemuda, pemimpin partai politik, redaksi media massa, penulis “buku, pemimpin badan tertinggi pemerintahan,-Wakil Presiden Republik Indonesia, Perdana Menteri (merangkap-Menteri).

Membicarakan Hatta, tanpa menyinggung Soekarno, dua Proklamator Kemerdekaan, tetap saja memukau. Di tengah gelolak perjuangan mereka berdua, ibarat dua mata bangsa dengan kepribadian yang berbeda. Kontroversial dalam pandangan politiknya, tetapi konvergen dalam usaha persatuan dan penyatuan bangsa. Sampai titik tertentu, ketika konvergensi pemikiran dan kegiatan mereka hampir Sempurna, mereka berpisah jalan. Banyak yang menyesali kejadian itu, tetapi banyak pula yang mendapat hikmah untuk meneruskan pemikiran-pemikiran yang positif dan belum selesai. Itulah garis perkembangan dialektik, tidak berhenti pada satu titik, tetapi mengembangkan pemikiran dan kegiatan dalam kondisi baru menuju masa depan.

Banyak pengalaman, .suka dan duka, puas dan kecewa, dipuji dan dicaci (oleh PKI), menjadi ciri masa jabatannya itu. Ternyata banyak keputusan Presiden Soekarno tidak sejalan dengan pendapat politiknya, bahkan sering ia dihadapkan dengan keputusan politik yang harus diterima sebagai kenyataan begitu saja, dan ia harus ikut bertanggung jawab sebagai anggota pucuk pimpinan negara. Ia memilih waktu’ yang tepat, yaitu selesainya Pemilihan Umum Pertama, dengan terbentuknya DPR hasil Pemilihan Umum, dan telah tersusunnya Konstituante, untuk mengundurkan diri. 1 Desember 1956 dalam usia 54 tahun, Bung Hatta resmi berhenti sebagai Wakil Presiden RI, dengan masa jabatan sebelas tahun.

Dalam masa Demokrasi Terpimpin, dan awal Orde Baru, dapat diamati sikap laku Bung Hatta sebagai warganegara biasa. Walaupun ia menjadi sorotan mereka yang mencela sikapnya, tetapi banyak yang masih mengharapkan Bung Hatta tampil lagi dalam pimpinan bangsa.

Ia tetap menulis dalam media massa, menyatakan pendapatnya tentang kehidupan dan perubahan politik dengan tenang, tegar, dan rasionalitas yang tetap dipertahankan sebagai ciri utama pemikirannya. Ia tetap memberi kuliah di Universitas Gadjah Mada, di sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, dan ceramah-ceramah lain, yang intinya ialah uraian tentang Pancasila dan anjuran tanggung jawab moral kaum_ inteligensia. Pada tahun l957, ia telah berkata berdasarkan moral dan etika dalam membela masyarakat kecil, yang bukan hanya sangat tajam dan nyeri pada masanya, akan tetapi juga sebagai peringatan

kepada pejuang idealis di masa berikutnya. Ketika perubahan begitu besar dan cepat terjadi, ketika gagasan dan pemikiran politik masa perjuangan menuju masyarakat adil dan makmur belum terwujud.

Kesulitan Bung Hatta dan ketegarannya mengungkapkan pendapatnya kini menjadi jelas setelah surat-suratnya terbuka, yang sebelumnya tentu tertutup. Ini menambah bobot moral dan etika Bung Hatta. Sekarang ini pembaca biografi Bung Hatta dapat mengikuti pikiran dan pemikiran kritisnya yang bertanggung jawab sebagai warganegara, khususnya yang diangkat dari surat-surat pribadinya antara tahun 1966-1980.

Buku setebal 778 halaman ini terasa belum lengkap. Ada celah-celah yang mesti dijelaskan berdasarkan dokumen, dan pendapat dari mereka (sejauh ini mungkin dapat dicapai oleh penulis) yang dikritik Bung Hatta. Oleh karena itu kesimpulan penyusun biografi, bukanlah penutup utuh, ia merupakan pembuka bagi diskusi-diskusi dan penelitian lanjut tentang tokoh proklamator, pemimpin, dan warganegara yang bertanggung jawab itu. Terlepas dari detail ini, ini adalah sebuah buku yang perlu dibaca dalam suasana 45 tahun Bangsa Indonesia Merdeka. (Abdurrachman Surjomihardjo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *