Japan, the social and economic antecedents of Modern Japan

Chie Nakane and Shinzaburro Oishi. Japan, the social and economic antecedents of Modern Japan. Tokyo: University of Tokyo, 1990. 235 halaman.

 

Hampir selalu orang merujuk – Restorasi Meiji (1868) sebagai titik awal proses perkembangan ekonomi dan modernisasi yang terjadi di Jepang. Dan sebaliknya kurun waktu pra-Meiji atau dua setengah abad masa pemerintahan Shogun Tokugawa (1603-1868) dipandang sebagai masa gelap. Selama masa itu Jepang dikatakan menutupdirinya dari pergaulan dengan dunia luar dan semua aspek kehidupan masyarakatnya pun begitu statis dan lebih agamis. Mirip dengan Abad Pertengahan di Eropa. Kecenderungan pendapat umum semacam ini seolah-olah memberi indikasi bahwa proses modernisasi Jepang merupakan suatu proses yang terputus antara sebelum dan sesudah Meiji.

Buku yang tengah ditinjau ini merupakan hasil penelitian para sejarawan kawakan Jepang. Buku ini boleh dikatakan memberikan sajian yang lain, karena fokusnya lebih tertuju pada usaha untuk mencoba berdialog mengenai aspek-aspek modernisasi dan tradisi Jepang masa kini dengan menelusuri akarnya justru pada periode pra-Meiji atau pra-modem. Secara tidak langsung isinya memberi petunjuk bahwa proses modernisasi Jepang bukanlah sesuatu yang terputus, tetapi sebaliknya, yakni adanya semacam kontinuitas dalam aspek-aspek sosial-ekonomi periode Tokugawa. Aspek-aspek inilah yang menjadi tonggak dasar bagi perkembangan ekonomi Jepang pada masa berikutnya.

Ada sembilan karangan yang terdapat di dalam buku ini yang kesemuanya berusaha menjawab mengapa negeri itu sampai ke kondisi seperti sekarang ini, yakni menjadi negara industrialis terkenal di dunia dan tetap mempertahankan tradisi budayanya. Adapun hasil penelitian sejarawan Jepang ini tertuju pada beberapa aspek seperti pemerintahan, kehidupan sosial-ekonomi masyarakat desa, perdagangan, perkotaan, dan jaringan komunikasi dan transportasi serta aspek kebudayaan seperti seni lukis, novel dan teater.

Shinzaburo Oishi dalam Bab I buku ini membahas panjang lebar mengenai proses ke arah pembentukan sistem politik yang stabil pada masa Tokugawa yang pada gilirannya memberi kemungkinan berkembangnya aktivitas ekonomi sampai ke desa-desa. Perkembangan ekonomi pada masyarakat petani atau masyarakat desa Jepang itu ditandai dengan pengenalan tanaman komersial dan perbaikan teknologi pertanian serta perdagangan dan industri. Bab II dan III yang masing-masing ditulis oleh Tsuneo Sato dan Satoru Nakamura sama-sama menukikkan pandangan mereka terhadap masyarakat petani Jepang. Bagaimana negara mengontrol masyarakat petani yang menjadi tulang punggung perekonomian negaranya dan bagaimana pula sistem administrasi desa dan inovasi dalam teknologi pertanian dan jenis tanaman dianalisis oleh kedua pakar di atas.

Masyarakat desa Jepang pada masa Tokugawa bukanlah suatu masyarakat yang statis. Pola pekerjaan mereka tidak hanya sebagai petani semata-mata, melainkan juga sebagai pengrajin, buruh upah di industri-industri yang terdapat di sekitar desa mereka. Munculnya industri tekstil, misalnya, di desa-desa memberi kesempatan kepada petani untuk beralih pekerjaan menjadi buruh. Apa yang dicatat oleh’ Tetsu’ Nakamura dalam perkembangan industri tekstil pada akhir abad ke-18 dan permulaan abad ke-19 adalah merupakan tahap awal perkembangan kapitalisme di negeri itu.

Berkembangnya tanaman komersial, perdagangan, dan industri di desa-desa Jepang menjadi penyebab hilangnya batas-batas desa itu. Hubungan antara desa sebagai produsen dengan kota sebagai konsumen semakin meningkat. Dan suatu hal yang tidak dapat dimungkiri adalah mengalirnya penduduk desa ke kota. Pertumbuhan kota-kota di Jepang sebagaimana dicatat oleh Katsuhita Moriya dalam Bab IV berkembang pesat pada masa Tokugawa. Ada 200 lebih jumlah kota kastel, 40 kota pelabuhan besar, serta 3 kota metropolitan yaitu Kyoto, Osaka dan Edo. Ketiga kota ini berpenduduk lebih padat dari kota-kota lain dan sekaligus juga berfungsi sebagai pusat politik, budaya, dan ekonomi.

Transportasi dan jaringan komunikasi merupakan faktor penting yang menghubungkan kota-kota di Jepang, terlebih ketiga kota metropolitan dengan fungsinya yang berbeda-beda sebagaimana disebut di atas. Baik transportasi di darat maupun di laut dan sungai (81-124) berperan menghubungkan daerah pedalaman dengan kota-kota pelabuhan atau antara satu kota dengan kota lainnya. Demikian juga halnya dengan sistem komunikasi seperti Sanda Shikyaku yang berarti pos ekspres yang tiga kali sebulan digunakan oleh para pejabat pemerintah untuk menyampaikan pesan dinasnya misalnya dari Kinai ke kota Edo. Di ketiga kota itu pula munculnya industri penerbitan yang’sekaligus memberi tanda betapa penduduk kota itu semakin haus informasi.

Bisnis keluarga sebagaimana ditulis oleh Yotaro Sakudo dalam Bab VI buku ini menjelaskan bagaimana praktek bisnis dan ideologi manajemen dari ketiga kasus yang diambilnya yakni dari keluarga Mitsui, Kunoike, dan Sumitomo. Ketiga keluarga ini mampu mengorganisir ”dan mengembangkan bisnis keluarga mereka di dalam suatu masyarakat yang begitu tinggi tingkat persaingannya. Caranya adalah dengan mengikat anggota keluarga mereka ke dalam suatu asosiasi atas prinsip kelompok. Di dalam kasus ini akan ditemukan bagaimana teori dan praktek dari long-term employment, senioritas dan familyism yang sampai kini masih dan tetap dilanjutkan oleh para pengusaha di Jepang.

Dalam bidang kebudayaan patut dicatat adanya berbagai perkembangan, khususnya dalam karya cipta lewat seni lukis, novel, dan teater. Tema yang diekspresikan lewat lukisan, novel, dan teater itu pada dasarnya dilatarbelakangi oleh kondisi sosial-ekonomi yang mengalami perubahan pula. Kebudayaan tidak hanya milik golongan atas, tetapi juga milik dan dinikmati oleh rakyat biasa. Tatsuro Akai dan Masakatsu Gunji mengkaji kaitan antara lukisan-lukisan dengan konteks sosialnya, antara pertunjukan teater kabuki (sejenis ketoprak bagi orang Jawa) dengan tema cerita yang mengisahkan salah satu aspek dari kehidupan masyarakat perkotaan seperti prostitusi.

Buku ini kemudian ditutup oleh Nakane Chie, seorang antropolog yang menaruh minat pada sejarah Jepang. Uraiannya memberi semacam pengikat dasar dari seluruh uraian. Dengan mencoba menggabungkan hasil penelitian para sejarawan

mengenai masyarakat desa Jepang masa Tokugawa dengan hasil penelitiannya pada tahun 1960, maka ia sampai pada suatu kesimpulan. Kesimpulannya ialah bahwa masyarakat desa Jepang tidaklah statis, namun struktur sosialnya tak berubah. Institusi ei (rumah tangga) tetap sebagai unit sosial dasar di desa. Dan hal ini mencapai kematangannya pada periode Restorasi Meiji dan proses modernisasi yang mengikutinya kemudian. Tingkat kematangan tradisi dari unit sosial desa itu disebabkan karena masyarakat Jepang adalah suatu masyarakat yang homogen dengan sumber alam yang terbatas. Inilah setidak-tidaknya yang memberikan ciri yang berlainan dengan masyarakat desa lain di negara-negara Asia.

Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah mengenai relevansi buku ini untuk Indonesia. Baik langsung atau tidak, tema-tema yang muncul dalam buku ini sebenarnya memberikan ladang baru dalam penelitian sejarah Indonesia. Tema-tema mengenai sejarah transportasi dan komunikasi, sejarah bisnis keluarga, sejarah industri untuk menyebut beberapa contoh saja, tak pelak lagi belum digarap oleh para sejarawan kita. Barangkali itulah relevansi terpenting untuk penulisan sejarah Indonesia yang lebih komprehensif. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *