Refleksi tentang Peristiwa G30S (GESTOK) 1965 dan Akibat-Akibatnya

Ibu Pertiwi dalam Keadaan Hamil Tua

Tulisan ini dimulai dengan latar belakang atau zaman ketika peristiwa G30S terjadi sebab hanya dengan latar belakang ini orang dapat mengerti peristiwa tersebut dan akibat-akibatnya. Kemudian kita akan melihat peristiwa percobaan coup d’etat G30S itu sendiri. Bagian ketiga dari tulisan ini tentang akibat peristiwa tersebut yakni perang saudara yang khususnya melanda Jawa-Bali pada tahun I965-l966.

Pada tahun l965 dunia terbagi dalam dua kubu yang saling bermusuhan. Kubu kapitalis-liberal yang menamakan diri demokrat berhadapan dengan kubu komunis yang terbagi menjadi dua Uni Soviet dan RRC. Polarisasi ini yang lebih populer disebut sebagai perang dingin. Indonesia mengenalnya sejak permulaan kemerdekaan. Pengakuan Nederland terhadap kemerdekaan Indonesia sebagian besar dipengaruhi oleh perang dingin ini. Memang Indonesia tidak terluput dari perang dingin, ingatlah peristiwa Madiun (1948), PRRl/Permesta dan lain-lain. Di dekat Indonesia yakni di Vietnam, Amerika Serikat (AS) mengadakan intervensi besar-besaran terhadap komunis. Untuk menghadapi RRC didirikan SEATO dan persekutuan-persekutuan lain.

Lebih serius dari keadaan internasional adalah keadaan dalam negeri Indonesia sendiri yang sejak l942 dapat dikatakan selalu dalam keadaan “vivere periculoso” atau krisis revolusi, perang saudara, konfrontasi dengan Belanda mengenai Irian, inflasi, nasionalisasi milik Belanda yang berarti pengambil alihan ekonomi kolonial ke tangan Indonesia dengan segala akibatnya: inflasi. pemotongan uang (sanering) dan lain sebagainya. Keadaan ini tampaknya terus berlaku sampai tahun 1972 (oil boom prices).

Pada tahun 1963/64, krisis ini, yang membuat orang sangat panik dan bingung, mencapai salah salu fase puncaknya. Konfrontasi dengan Belanda mengenai Irian Barat berakhir dengan kemenangan Indonesia dan perdamaian dengan Belanda. Amerika menjanjikan suatu program pemulihan ekonomi Indonesia yang disebut Dekon (Deklarasi Ekonomi) oleh Sukarno yang paralel dengan istilah dan konsepsi Deklarasi Politiknya pada pertengahan 1950-an yang melahirkan Demokrasi Terpimpin. Berlainan dengan Manipol (Manifesto Politik) Sukarno, Dekon tidak mengalami masa yang panjang, kandas setelah beberapa bulan bahkan tampaknya tidak pernah dimulai. Penyebabnya dalah dimulainya konfrontasi terhadap Malaysia yang dianggap sebagai proyek Nekolim (Neo Kolonialisme) yang mengepung Indonesia. Sampai kini kita tidak tahu apa sesungguhnya penyebab konfrontasi ini: siapa dalangnya dan apa gunanya?

Tiba tiba kita bermusuhan dengan Malaysia yang berarti melawan dunia (atau tepatnya dengan dunia Barat) yakni Inggris. Australia. AS dan tentunya Malaysia dan Singapura. Terjadi pemberontakan di Brunei terhadap Sultannya dan protektorat Inggris. Gerakan tersebut yang sedikit banyak pro lndonesia. dapat ditindas dalam satu dua hari oleh Inggris. Peristiwa itu semakin menyulut konfrontasi.

Saat itu terdapat banyak proyek “mercusuar” seperti Asian Games. Stadion Senayan. Hotel lndonesia. Conefo. Ganefo dan lain-lain. Akan tetapi proyek mercusuar yang paling mahal adalah konfrontasi terhadap Malaysia seperti juga proyek Timor Timur pada masa Orde Baru.

Pemotongan uang itu membuat kelas menengah marah dan masyarakat semakin bingung. Saya kira pada tahun tahun 1962/1963 juga seperti kini ada musim kemarau yang berkepanjangan, kegagalan panen padi-hama tikus yang dahsyat yang merusak semua tanaman dan persediaan padi/beras dan menimbulkan kelaparan di pulau Jawa. Kadang kala saya mengadakan perjalanan dengan mobil teman pada malam hari melintasi jalan-jalan di Jawa dan menyaksikan ratusan tikus lewat jalan-jalan tersebut disoroti lampu mobil. Ada banyak cerita dan kadang-kadang berita di koran bagaimana tikus memakan bayi atau anak kecil dan sebagainya yang menambah kengerian.

Akibat- akibat fisik disintegrasi sosial-ekonomi pada tahun tahun 1964-1966 lebih parah dari masa kini. Misalnya kelas borjuasi sekarang hidup dalam kompleks perumahan mewah, naik mobil bagus, relatif terisolir dari kehidupan rakyat, paling-paling mereka pernah membaca statistik kemiskinan dan berita kekurangan pangan. Namun pada tahun 1965 hal ini dapat disaksikan sendiri di depan mata. Saya pernah melihat orang-orang dari desa pingsan karena kurang makan di depan mata sendiri di depan rumah teman, Nugroho Notosusanto.

Kecuali kelaparan, ada gejala deterioriasi lain yang dialami semua orang, yakni merajalelanya kutu busuk. Orang tidak bisa duduk dengan nyaman di kursi bioskop. meskipun bioskop kelas satu pada zaman desas-desus bahwa beras di pasar di Burma dan Thailand yang diimpor Indonesia dibeli semuanya oleh keluarga Oei Tiong-ham, yang milik dan usahanya termasuk perseroan dagangnya Kian Gwan, dikonfiskasi dan dinasionalisasi dalam tahun 1963 (pada HUT ke-100 nya) oleh Indonesia atas tuduhan pelanggaran devisa (sic-…’).

Dalam keadaan krisis ekonomi-sosial yang buruk ini, terjadi agitasi politik yang sangat tajam di ibu kota. Konfrontasi dengan Malaysia dimulai dengan kerusuhan yang besar. Kedutaan Besar Inggris dibakar dan rumah-rumah orang Inggris dijarah sedangkan mobil-mobil mereka dibakar oleh massa. “Gaityang Malaysia” ini menciptakan kesempatan untuk berbagai demonstrasi anti imperalisme. baik terhadap Inggris maupun AS. Pengusaha Inggris dan AS angkat kaki dari lndonesia. berbagai kantor/lembaga Amerika seperti USAID. Ford Foundation ditutup. Ada juga orang Indonesia yang pergi keluar negeri karena sudah merasa kehilangan negara mereka (Negara Proklamasi).

Terjadi berbagai aksi untuk mendongkel beberapa menteri penting yang diduga musuh PKI dan yang didemonstrasi untuk diminta turun oleh PKI dan sekutu-sekutu kirinya. Dua menteri (Menko) dalam ingatan saya menjadi sasaran yakni Chaerul Saleh dan terutama Adam Malik. Namun agitasi politik yang paling hebat adalah tuntutan front kiri ini untuk membubarkan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). D.N. Aidit mengatakan pada organisasi “onderbouwnya” PKI” yakni CGMI bahwa kalau mereka tidak dapat membubarkan HMI pada akhir tahun, maka dia akan menghadiahkan mereka sarung. HUT PKI ke-50 dirayakan secara besar-besaran pada tahun 1965.

Tuanya rezim kelihatan dari berbagai keresahan di berbagai angkatan. Yang pertama di AURI: Pemecatan Marsekal Suryadama pada permulaan 1960an menyebabkan munculnya generasi muda AURI yang dipimpin oleh Oemar Dani. Di ALRI pada 1964 atau 1965 terjadi gejolak di antara perwira-perwiran muda yang mau menggeser Martadinata. Dari Angkatan Darat ada gejolak lain. Seorang Mayor (atau Kolonel) yang bernama Buntaran rupanya berusaha mengumpulkan sebagian elite politik-intelektual Jakarta (tidak          terlalu jelas) untuk mengadakan demonstrasi politik atau agitasi, atau entah apa. Pokoknya suatu tindakan politik, entah oleh siapa dan untuk apa.

Namun kelihatan agak kiri liar. Sebab seperti semua peristiwa militer, peristiwa ini belum pernah dijelaskan atau dijernihkan. Mungkin ini semacam gerakan seperti di Laos di mana seorang kolonel (angkatan udara) melakukan semacam kudeta yang dikira berhaluan kiri namun sebenarnya fasis.

Partai politik juga retak dan pecah menjadi dua pola. Contoh adalah PNI yang pecah menjadi kelompok Ali (Sastroamidjojo) Surachman (ASU) dan kelompok Osa-Usep (Osa Maliki dan Asep Ranuwiharja) atau kiri dan kanan. Golongan kanan dalam PNI ini mencoba menarik dukungan Sukarno dengan mendirikan BPS (Barisan Pendukung Sukarno) di mana BM. Diah merupakan salah seorang tokohnya. Polemik yang terjadi di harian Merdeka dan Harian Rakyat antara Diah dan Aidit membeberkan perbedaan pendapat antara kaum nasionalis-Marhaenis dan PKI. Terpelesetnya Aidit yang dalam sebuah pidato seakan-akan menentang konsep “Ketuhanan yang mahaesa“ pada Pancasila menyebabkan demontrasi-demonstrasi anti PKI dan anti Aidit yang dikatakan anti Pancasila. Akan tetapi wasit politik pada waktu itu adalah PBR (Pemimpin Besar Revolusi) Presiden Sukarno, dan beliau dapat melindungi Aidit dan PKI dari demonstrasi kelompok pendukung Pancasila.

Kemudian Presiden Sukarno didesas-desuskan dalam keadaan sakit parah dan setelah perayaan l7 Augustus 1965, diperkirakan mungkin tidak akan dapat mengalami akhir tahun tersebut. Ternyata beliau masih dapat bertahan beberapa tahun kemudian.

Dalam keadaan demikian terjadi keadaan politik dengan tiga pola kekuasaan: Presiden, tentara dan PKI. Herbert Feith seorang sarjana politik Australia dari Monash University dan pengamat tajam tentang Indonesia menulis artikel di Journal of Asian Studies (Berkeley) dengan judttl “The Changing Triangle”. Tulisan ini diterjemahkan bersama-sama dengan berbagai tulisan lain dalam bahasa Indonesia. Tulisan tersebut terbit beberapa bulan sebelum kudeta 1965. Ia mensinyalir bahwa antara ketiga poros kekuasaan Presiden, Angkatan Darat, dan PKI, balance kekuatan rupanya bergeser ke arah PKI yang dikatakan “kini di atas angin” (pertengahan 1965). Akibatnya kekuatan-kekuatan dalam negeri yang non atau anti komunis dan khususnya tentu dunia Barat semakin prihatin. Apalagi hal ini diperkuat dengan apa yang oleh presiden Sukarno disebut poros Jakarta – Pyongyang-Beijing – Hanoi. Aneh sekali ketika muncul tulisan Moh. Hatta dalam majalah Asian Studies yang mengatakan bahwa politik konfrontasi melawan Malaysia adalah untuk membendung pengaruh Cina (RRC ?) di kawasan Asia khususnya Asia Tenggara.

Kalau kekuatan politik di ibu kota kelihatan bergeser ke kiri maka menurut penglihatan saya yang pada waktu itu mengadakan perjalanan lebih dari sebulan (selama liburan panjang) melewati Jawa Tengah, Jawa Timur serta Madura, militansi pemuda rupanya berada di pihak anti komunis. Militansi pemuda, kita sebut saja, pihak kanan timbul karena dua hal:

  1. Aksi sepihak dari Barisan Tani Indonesia (onderhouw PKI) dan PKI/Pemuda Rakjat;
  2. Karena desas-desus Angkatan ke-5 atau milisi Rakyat, Ini adalah alasan formal yang diberikan oleh tokoh tokoh daerah.

Dalam tahun 1959 ada undang-undang landreform yang sebenarnya tidak terlalu radikal dalam mengatur tanah hak milik pribadi (petani). Namun di dalamnya ada juga ketentuan-ketentuan tentang bagi hasil antara penggarap tanah dan pemilik. Hal terakhir ini sangat menguntungkan penggarap dan akan dapat menjungkirbalikkan tatanan sosial pedesaan. Secara garis besar, kalau dahulu pemilik tanah dapat 60% dan penggarap 40% dari panen, menurut undang-undang yang baru keadaan menjadi sebaliknya. Ada banyak ketentuan-ketentuan lain dari undang-undang landreform ini.

Pada permulaan 1960 (1962/63 ) oleh BTl dan PKI diadakan apa yang disebut aksi sepihak terhadap tujuh setan desa yakni para tuan tanah, lintah darat yang menuntut bunga tinggi (sic!) (tidak ada lagi dalam zaman inflasi) dan seterusnya.

Aksi sepihak merupakan rongrongan terhadap pihak yang mapan di desa dan pedalaman. Di mana-mana terlihat adegan-adegan protes dan kadang kala aksi seperti pengambilalihan tanah dengan paksa, penolakan janji-janji bagi hasil yang lama, penurunan lurah dan protes terhadap para sesepuh desa. Pergolakan di desa/daerah Jawa sama seperti pada tahun tahun 1945 atau 1998/1999 hanya jauh lebih meluas dan hebat. Aksi sepihak ini khususnya karena datangnya dari golongan miskin bahkan “kere” (have-nots) dan secara liar serta agitatil’. Mereka dapat menimbulkan suasana revolusi sosial mirip dengan zaman revolusi kebudayaan di RRC. Ada misalnya seorang istri dokter terkenal di kota Solo yang digiring oleh ratusan tukang becak ke kantor polisi untuk menyelesaikan pertikaian harga becak. Istri dokter tersebut akan pergi ke suatu resepsi dan berpakaian formal sekali dengan kain kebaya, lengkap dengan sanggul rambut besar dan sepatu Itak tinggi, sedangkan terik mata hari ada pada puncaknya di atas kota Solo. Terjadi berbagai adegan serupa ini di berbagai kota. Ada juga kepala-kepala desa tua yang disidangkan di depan pengadilan rakyat dan lain-lain.

Sumber: Internet

Aksi sepihak ini kelihatan mendapat setengah dukungan pemerintah karena pidato-pidato anti-komunistophobi, persatuan Nasakom dan lain-lain dari Presiden Sukarno. Sebenarnya aksi sepihak ini senantiasa merongrong kewibawaan pemerintah, menciptakan suasana revolusioner serta vacum kekuasaan yang justeru dapat menjatuhkan pemerintah bila tidak dapat lagi mengontrol keadaan. Aksi-aksi sepihak agak mengendor dalam bulan-bulan sebelum kudeta 1965. “Periode aksi liar” akan ditutup dengan aksi liar gerakan “Untung” dan tragedi 1965/ l966 yang merupakan aksi liar terbesar dalam sejarah lndonesia.

Aksi-aksi sepihak, keadaan ekonomi kacau, keruntuhan sosial, mengundang ketegangan serta kepanikan. Masyarakat pedesaan sampai kota mendirikan barisan-barisan drum band untuk melindungi para tokoh kiai. ulama dan tokoh-tokoh lain, baik yang sekuler maupun rohani. Setiap grup drum band terdiri dari 10sampai 30 pemuda yang diberi berbagai pakaian seragam dari seragam AMN, football college Amerika, pakaian janitor dan berbagai macam warna-warni seperti emas dan lain sebagainya. Tentu saja orang yang dapat membiayai grup drum band ini berasal dari golongan mapan. Grup-grup drum band yang sealiran dikumpulkan dan mereka berbaris sambil memainkan alat-alat musik, yang bernada militer. Di setiap kota-kota kecil mereka berbaris sepanjang satu sampai dua kilometer, para anggota drum band ini bermain selama beberapa jam bahkan sampai lebih dari 10 jam.

Tentu saja saya mengadakan wawancara Ada orang yang mengatakan drum band ini muncul setelah siswa-siswa Akademi Militer (AMN) mengadakan perjalanan keliling Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan dntm band tentunya di sekitar Desember 1964. Gejala drum band ini juga dikaitkan dengan rencana Presiden untuk mendirikan Angkatan ke-5. yakni semacam milisi. Lalu pemuda khususnya golongan lslam (NU) mendirikan drum band ini untuk menunjukan bahwa mereka yang paling siap untuk jadi milisi dan pemuda angkatan ke-5 sebab latihan semi militer mereka.

Juga ada desas-desus, entah benar atau tidak bahwa dalam bulan Februari 1965 NU mengadakan rapat untuk menghadapi landreform dan aksi sepihak. Masalah landreform ini juga menyebabkan pendekatan antara tokoh-tokoh NU dan PNI (keduanya tuan tanah ala Jawa) dengan menjadikan kelebihan tuan tanah PNI menjadi tanah wakaf pesantren/kiai untuk tnenyelamatkannya dari landreform. Namun lebih penting dari pada ini adalah menjalantya desas-desus tentang pembunuh-pembunuh tidak dikenal (istilah “pembunuh misterius” belum ada apalagi “ninja”)- mungkin yang sekelompok dengan yang melakukan aksi sepihak – yang membunuh. memukul atau menikam kiai-kiai terkenal.

Pada perayaan 17Agustus l965 barisan-barisan drum band ini yang sebagian besar terdiri pemuda lslam (banser dan lain-lain) mendominasi perayaan- perayaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kelompok Pemuda Rakyat kelihatannya berjumlah kecil dan agak lesu dengan rombongan ketoprak, ludruk dan tarian-tarian lainnya. Perayaan I7 Agustus l965 sebenarnya sudah terkalahkan dengan perayaan-perayaan agama seperti misalnya Maulud Nabi sebagainya. Pokoknya pidato-pidato oleh anak-anak ini mengesankan seakan dunia ini menghadapi kiamat dengan suara-suara anak seperti orang kesurupan. Contoh yang paralel dalam sejarah saya hanya dapat berikan seperti dalam Children’s Crusade (Perang Salib kanak-kanak atau peran anak anak dalam memproklamasikan Tahun Suci pada tahun 1300 di Roma).

Pada saat itu saya sudah menganalis bahwa di ibukota, poros kekuatan bergeser ke kiri, di pedalaman poros bergeser ke kanan. Ada juga berbagai clash fisik antar pemuda yang menunjukan militansi dan agresil’nas drum band. Di Madura (Pamekasan) ada pertandingan atletik antara pemuda dua aliran. Pemuda atlet yang menang lalu dibunuh ranmi-ramai oleh penanda-pemuda yang kalah dalam pertandingan ini. Saya juga telah merasa pada saat itu “kalau ada konflik politik timbul. itu akan berdarah sekali.”

Pokoknya suasana perang saudara sudah mencekam hati saya, ketika saya pulang ke Jakarta pada akhir September 1965 dan mendengar pada siang harinya pengumuman Kolonel Untung tentang pengambil alihan kekuasaan olelmya dan didirikannya Dewan Revolusi yang menggantikan pemerintahan.

Asal Kudeta 30 September 1965

G30S berasal dan sebagian terbesar terdiri dari Divisi Diponegoro di Jawa Tengah. Para Asisten Panglima Surjo Sumpeno, Panglima Diponegoro, terlibat dalam kudeta di Jawa Tengah dimana gerakan tersebut berhasil mengambil alih kekuasaan lebih lama dari pada di Jakarta. Salah seorang tokoh penting dari gerakan ini adalah Kolonel Suherman. Asisten Intel Divisi Diponegoro. Kolonel Untung yang memimpin G30S di pusat juga berasal dari divisi Diponegoro yang dipindahkan ke Jakarta menjadi salah seorang komandan Cakrabirawa (Pengawal Istana) pada permulaan 1965. Untuk perayaan ultah TNI 5 Oktober I965, yang akan dirayakan secara besar-besaran guna menyaingi peringatan HUT PKI, dikirim Batalyon 454 yang pernah dipimpin Untung. Selain itu hampir semua tokoh pemerintahan sepeni Subandrio, Chaerul, dan lain-lain berada di luar Jakarta pada 30 September/l Oktober 1965. Selain itu juga ada perwira yang berasal dari divisi Diponegoro yaitu Kolonel Latif yang rupanya menjadi penghubung dengan Angkatan Udara, antara lain dengan Mayor Sujono. Antara AU (Angkatan Udara) dan Angkatan Darat (AD) terdapat persaingan bahkan dendam karena AD mengabaikan kampanye di Kalimantan Utara yang dipimpin oleh Omar Dani. Para perwira AU ini menyediakan daerah Lubang Buaya yang berada di dekat pangkalan Halim bagi latihan Pemuda Rakyat (PR). Menurut Cornell Paper keterlibatan PR dan Gerwani ini penting untuk membujuk Sukarno menyokong G30S. Sebab kalau ada kesan bahwa PKI terlibat maka guna menyelamatkan revolusi dan ideologinya, Sukarno tentu akan terpaksa menyokong 0305. Sokongan ini ternyata tidak pernah diberikan oleh Sukarno.

Sebab-sebab dan komposisi kudeta mungkin harus dicari di divisi Diponegoro dan bukan di pusat. ltu mungkin dapat menjelaskan mengapa Mayor Jenderal Suharto tidak termasuk dalam daftar penculikan. yang memang hanya memiliki target para Perwira Pusat atau Staf Markas Besar AD yakni A.Yani es selain KSAB Jendral Nasution.

Menurut Cornell Paper penelitian terhadap Divisi Diponegoro sangat penting untuk mengerti G30S sendiri, dan perhatian ke arah sana tampaknya belum dan tidak pernah dilakukan. Kalau gerakan tersebut murni gerakan Diponegoro (atau oknum-oknum) terhadap Staf Markas Besar, maka kita dapat mengerti mengapa Jendral Suharto yang kemudian menjadi Presiden tidak dalam daftar sasaran G3oS. Suharto pernah menjadi Komandan Diponegoro. Akan tetapi menurut penglihatan saya G30S juga memiliki sasaran yang terbatas pada Staf Markas Besar mungkin karena kekurangan tentara. Selain itu G30S hanya terbatas pada daerah Jawa Tengah dengan adanya pergolakan atau pengambil alihan kekuasaan di kota-kota penting daerah tersebut, seperti Semarang. Salatiga, Solo, dan Yogya. Di Jawa Timur (Brawijaya), sama sekali tidak ada pergolakan (baru kemudian dari KKO?)

Cerita G30S sendiri sudah kita ketahui seperti mengenai penculikan, pembunuhan para Jenderal dan lain-lain, dan tidak perlu diulangi di sini. Yang jelas Sukarno. Aidit dan Omar Dani berada di Halim. Dari tiga orang ini keberadaan Sukarno di sana paling jelas. Beliau dibawa ke Halim menurut prosedur pengamanan bila ada keadaan tidak menentu. ia diselamatkan ke pangkalan udara atau laut. Lalu apakah Aidit ke Halim karena dibawa oleh G3OS ke sana, dan kemudian ke Jawa Tengah untuk, menyuruh masa PKI di sana tidak mengadakan provokasi dan untuk berdiam dengan damai seperti Cornell Paper berspekulasi?

Setelah peristiwa G.3()S. terjadi dan sudah ditumpas di Jakarta, saya sendiri merasa bahwa ini akan berarti berakhirnya peran Sukamo. Pimpinan tentara dibunuh. Bagaimana meneruskan politik konfrontasi dalam keadaan demikian. Beliau juga ternyata kehilangan kontrol terhadap Cakrabirawa. Meskipun berdalih menyelamatkan Sukarno dari konspirasi Dewan Jendral, gerakan tersebut dengan jelas mengkonspirasi kekuasaan dan kedudukan Pemimpin Besar Revolusi/Presiden Sukarno. Bukankah mereka mendernisionerkan Kabinet dan mendirikan Dewan Revolusi serta lebih gila lagi, menurunkan semua pangkat Jenderal menjadi Kolonel dan menaikkan pangkat personil G30S itu sendiri seperti Letkol Untung menjadi Kolonel.

Setelah penumpasan terhadap G30S, di Jakarta dalam waktu kurang dari setengah ltari maka kecurigaan segera jatuh pada Sukarno dan PKI sebagai dalang-dalangnya. Sekarang tentu kita tahu bahwa yang paling tidak mungkin kecurigaan terhadap Sukarno. Tidaklah mungkin Presiden mengadakan kudeta terhadap dirinya sendiri. Kalau dia mencurigai Yani/Nasution cs. maka beliau dapat memecat mereka walaupun sukar tanpa memprovokasi tentara dan membubarkan politik konfrontasi.

Waktu itu memang ada persoalan antara Sukarno, dengan pimpinan AD, khususnya Nasution. Kecurigaan ini bersifat struktural dalam konsep dwi-fungsi tentara. Bila dalam demokrasi parlementer persaingan kekuasan adalah antara eksekutif dan parlemen maka dalam sistim dwi-fungsi hal itu terjadi antara eksekutif (Presiden) dan pimpinan AD. Dalam zaman Orde Baru sekalipun, di mana Presidennya seorang militer masih tetap ada kecurigaan kuat antara Presiden Suharto misalnya terhadap B. Moerdani. Penyelesaian akhirnya dicari dengan mengangkat ajudan-ajudan Presiden Soeharto sebagai Panglima ABRI. Dalam zaman Sukarno penyelesaian dicari dengan menjadikan KSAD sebagai anak emas, sistim adu domba (divide cl empera) dan lain-lain. Sementara itu AD selalu mencurigai populisme Sukarno dan dengan sendirinya semua partai terutama PKI.

Bagi Sukarno sendiri pengalaman di Halim pada1 Oktober 1965 seakan-akan membawa beliau kembali ke Rengasdengklok pada Agustus 1945. An old movie. Namun kali ini lebih berbahaya dan gila dari pada para pemuda zaman itu. Masak menurunkan pangkat-pangkat militer? Beliau berada di tengah mutinous soldiers –Suatu soldateska (tentara liar istilah Rusia bolshevik) para petualang paling parah. Dalam waktu hanya setengah hari Sukarno lepas dari cengkraman Untung. Beliau melakukan negosiasi yang sama, kelak dengan Suharto namun yang memakan waktu dari 1 Oktober 1965 -sampai 11 Maret 1966. Apa yang dilakukan Kolonel Untung adalah sama seperti apa yang terjadi dengan Sukarno pada 11 Maret 1966, dan oleh Suharto. Apakah Aidit merasa halyang sama? Apa mungkin Sukarno atau Aidit percaya adanya Dewan Jendral yang mau mengadakan kudeta? Mungkin sekali, tetapi apakah mungkin mereka percaya kepada Letnan Kolonel Untung

Namun tetap benar, kesadaran kontra-revolusi bagi semua seharusnya berlaku. Ini adalah ajaran klasik bukan saja dari Marxisme akan tetapi dari ilmu politik secara umum. Teka-teki terbesar dalam seluruh peristiwa G30S ini adalah tindak tanduk PKI. Apa PKI terlibat atau tidak padaG30S, mereka pasti akan diganyang oleh tentara. G30S telah mengganggu keseimbangan kekuatan. Artinya peristiwa kudeta yang menjadi sebab langsung pengganyangan terhadap PKI hanya dalih belaka. Memang orang sampai saat itu mengira bahwa clash tentara dan PKI akan timbul pada peristiwa seperti wafatnya Sukarno atau saat peristiwa lain, namun pasti akan tiba. Apa lalu persiapan PKI dari pembubaran Masjumi dan PSI atau dari usahanya sendiri untuk membubarkan HMI, seharusnya PKI, sudah sadar bahwa partai ini bisa dibubarkan dan mungkin ditindas walaupun mungkin tidak mengira dapat dibantai secara massal seperti yang terjadi di kemudian terjadi.

Dalam perang saudara yang berlangsung dari permulaan Oktober 1965 sampai permulaan Maret 1966 terjadi pembantaian besar-besaran. Ini dapat disebut perang saudara karena kalau tentara saja yang melakukannya tidak mungkin kehancuran PKI demikian total sehingga tidak ada bayang-bayangnya sama sekali sampai kini. Masalah hancurnya PKI secara total menimbulkan pertanyaan lain. Kalau PKI dikatakan sebagai organisasi Indonesia yang paling militan dan modern. kenapa organisasi politik sekuat ini tak pernah lahir lagi sesudah 1965.

Pertanyaan lain. apakah mungkin G30S ini suatu gerakan otonom, tidak ada dalang dan tidak ada keterlibatan baik Sukarno. PK] ataupun CIA bahkan Suharto yang akhir-akhir ini dicurigai. Orang lndonesia pada umumnya tidak percaya bisa ada gerakan otonom. Padahal dalam sejarah ada ratusan contoh gerakan otonom seperti gerakan-gerakan Ratu Adil yang juga melalui violent raids mencoba merubuhkan kekuasaan yang sah. Aksi-aksi daulat dan penculikan pada zaman revolusi mengingatkan kita pada aksi G3OS. Apakah aksi-aksi semacam gerakan Ratu Adil atau G30S adalah pengganti “partisan” dan gerakan bawah tanah di masyarakat dan negara lain? Bagaimana dengan gerakan Daud Beureuh dan sebagainya, tetapi ini bukan di Jawa

Peran C .l.A. maupun intelijen Inggris dan dinas-dinas rahasia lain, tentu ada. Akan tetapi dinas-dinas rahasia asing ini tidak dapat mempengaruhi dan menciptakan situasi tanpa didukung oleh berbagai masalah. pertentangan. dan konnik internal dalam negeri. Mereka hanya bisa beroperasi dalam kerangka Indonesia sendiri. Kita tahu bahwa kolonialisme pada masa lampau tidak mungkin tumbuh tanpa sekutu-sekutu Indonesianya.

Transisi dari Orde Lama ke Orde Baru (1965-1966) bukan satu-satunya transisi berdarah dan kacau yang saya alami. Ini sudah keempat kalinya. Pertama ketika Hindia Belanda digantikan oleh pendudukan Jepang (Maret 1942), kedua kali tahun 1945, ketika Jepang runtuh dan Republik lndonesia diproklamasikan sedangkan Belanda berusaha mengadakan restorasi kolonial lagi. Pada saat itu juga ada massa panik yang mencari agen-agen Nika di bawah setiap kolong ranjang dan Van der Plas, Gubernur Jawa Timur kolonial dan anggota Raad van Indie digambarkan sebagai dalang semua peristiwa. Pada transisi 1965/1966 PKl. Sukarno dan Subandrio menjadi setan-setan dan momok-momok. Indonesia (Jawa) setelah itu bertahun-tahun seakan-akan di bawah pendudukan militer tentara sendiri. Sedangkan pada tahun 1998/1999 ninja, santet, dukun hitam, Suharto, Prabowo dan dalang-dalang lain menjadi momok.

Memang mahal sistem pemerintahan Orang Kuat itu. Mudah-mudahan tidak ada lagi orang kuat yang berkuasa kecuali pemimpin suatu sistem pemerintahan yang normal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *