Guna Sejarah dan Pembelajaran Sejarah (Kritik Pembelajaran Sejarah di Ruang Kelas dari Seorang Siswi)

 

Sambil menunggu jam mengajar, saya membolak-balik lagi lembaran tugas siswa untuk dikoreksi. Ada hal menarik saat saya membaca tugas esai salah satu siswi yang baru duduk kelas X bernama Sakinah Melati Shaleha. Ia sekarang duduk di kelas X Pemasaran. Meski sampai sekarang saya masih terus mengupayakan agar mereka mencintai budaya baca, satu hal yang menggembirakan adalah sebagian besar siswa-siswi di SMK memiliki ketertarikan menulis dan dan sikap kritis. Lembaran tugas yang saya periksa adalah salah satu buktinya.

***

Kemarin, ketika berbincang di kelas dan membaca tulisan Sakinah, ia menyampaikan kritik terhadap guru sejarah dan metode pembelajaran sejarah di dalam kelas karena menurutnya tidak sesuai dengan “Guna Sejarah” yang ia pahami dan pelajari (Kritik itu berarti ditujukan kepada saya karena saya adalah pengajar bidang studi itu).

Menurutnya, ada tiga (3) guna sejarah menurut yang ia pahami, yaitu Guna Edukatif (sejarah memberikan pelajaran atas peristiwa masa lalu); Guna Inspiratif (Peristiwa yang lampau dapat memberikan inspirasi); dan Guna Rekreatif (memberikan kebahagiaan, rasa senang). Jadi, menurut Sakinah, seharusnya pembelajaran sejarah setidaknya merujuk pada tiga Guna diatas. Persoalannya adalah selama ini Pembelajaran Sejarah terkesan hanya merujuk pada Guna Edukatif saja sehingga menjadikan pelajaran sejarah menjadi pelajaran yang hanya mengandalkan hafalan dan membosankan.

Saya tertegun mendengarkan pemaparan siswi saya, dan membaca kembali tugas yang dibuatnya. Saya mendapatkan ilmu dan masukan berharga dalam pembelajaran sejarah dari seorang siswi yang baru tiga minggu mempelajarinya topik tersebut di sekolah. Di akhir tulisannya Sakinah menulis kesimpulannya bahwa seandainya tiga Guna diterapkan secara terintegrasi dalam pembelajaran. Menurutnya, “[…] sejarah bukan hanya sekedar pelajaran menghafal yang membosankan, tetapi merupakan pelajaran yang dapat menghibur diri kita dan memperluas wawasan atau pemikiran serta menjadikan diri kita bermotivasi agar menjadi pribadi yang baik”.

Pertemuan berikutnya dengan tekad tidak ingin mengecewakan siswa-siswi di kelas, Saya mempersiapkan diri dengan lebih baik. Saya membuka kembali buku-buku Strategi Pembelajaran Aktif karya Hisyam Zaini et.al., (2008) dan mencari strategi yang saya kira cocok untuk materi selanjutnya, yakni Indonesia masa pra-aksara dengan mengintegrasikan tiga Guna Sejarah di dalammnya. Hari itu dalam 2 kelas saya mempraktekkan strategi “Lightening the Learning Climate“. Landasan teoritis adalah suatu kelas butuh suasana yang santai, tidak tegang sehingga perlu kiranya humor yang lucu dan memiliki kaitan dengan materi yang membuat pembelajaran lebih bermakna bagi siswa.

Saya membagi siswa dalam beberapa kelompok, lalu memberikan tugas individu dan kelompok. Saya memberi beban sedikit untuk tugas individu. Sedang untuk tugas kelompok, saya meminta siswa mendiskusikan dan membuat konsep humor yang terkait dengan materi pra aksara dan kemudian menampilkannya di depan kelas.

Setelah beberapa kelompok siswa tampil ke depan, suasana kelas benar terasa hidup dan penuh apresiasi, disertai riuh tepuk tangan. Ada siswa yang menampilkan menu kehidupan pra aksara yang sama sekali tidak sehat. Stand Up Comedy mengenai kehidupan manusia purba yang menampilkan drama singkat komunikasi manusia purba dengan hanya ber “gugu-gaga” dalam kelompok. Suasananya cukup heboh. Point pentingnya adalah membuat siswa percaya diri dulu untuk tampil di depan orang banyak, sementara yang lain belajar mengapresiasi karya seseorang apapun yang ditampilkan.

Namun ada juga sedikit problem yang timbul sehingga agak kurang sreg di dalam hati. Ada beberapa humor yang terkesan menyedihkan. Saya melihat itu dalam kehidupan sehari-hari baik di televisi, candaan antar sesama dengan mengolok-olok kekurangan fisik, sehingga menimbulkan kesan menghina untuk membuat orang lain tertawa. Misalnya adalah candaan “Jika ingin melihat pitchecantropus erectus berjalan maka lihatlah si A”. Sontak kelas langsung riuh. Saya kira hal ini tidak terjadi di kelas saya saja, tetapi mungkin juga dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhir waktu setelah memberikan apresiasi sekaligus kesimpulan materi, saya memberikan sedikit penjelasan mengenai humor. Siswa mendapatkan pelajaran penting hari itu. Salah satunya adalah betapa humor tanpa merendahkan martabat seseorang sulit dibuat dan dipraktekkan. Tentu persoalan ini juga berkait dengan selera dan budaya karena masing-masing orang berbeda-beda dalam hal tersebut. Namun saya berpendapat pemakaian humor dengan menyelipkan materi pembelajaran di kelas tetap menarik untuk dilakukan. Kelas menjadi lebih hidup. Saya pun menjadi lebih bersemangat untuk lebih baik lagi. Berdasarkan kritik dari tulisan seorang siswi, saya mendapatkan banyak hal dalam hidup.

***

Ketika saya menuliskan pengalaman itu   dalam akun Facebook, Profesoor Rusdi Muchtar, seorang pakar komunikasi, mengomentari tulisan saya dengan memberikan nasehat bahwa terkadang dari siswa kita juga banyak mendapatkan pengetahuan. Kita semua para senior, baik guru atau dosen, harus sadar bahwa kita hanya lebih dulu lahir dari siswa kita itu. Namun, kadar intelektual mereka mungkin ada yg lebih dari kita. Lebih lanjut Professor Rusdi mengatakan bahwa pengajar sejarah harus memiliki pengetahuan yg luas, memiliki sense of good teaching/komunikatif.

Semoga saya bisa lebih baik lagi ke depannya.

 

 

Randy Homzi Romadhon adalah Guru SMKN 1 Panji Situbondo Jawa Timur sekaligus calon Guru Garis Depan Kabupaten Buru Provinsi Maluku

1 Thought.

  1. Bagus sekali tulisan yg pak Randy buat. Saya secara diam2 mengikuti sepak terjang pak Randy. Dan saya sangat kagum. Betapa guru yg masih begitu muda memiliki pemikiran yang sangat jauh ke depan. Saya sangat termotivasi meskipun sampai saat ini saya belum bisa memberikan yang terbaik untuk anak2. Semoga sukses pak. Semoga Allah SWT memudahkan langkah pak Randy untuk berbuat yg terbaik untuk anak bangsa. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *