Onghokham: Menjadi Indonesia dan Terus Menjadi

Koleksi album foto Onghokham/Penulis

Menelusuri kembali pemikiran Onghokham (1933 – 2007) dan mencari jejak sumbangannya terhadap historiografi Indonesia, segera menghadapkan kita pada sejumlah peringatan. Pertama, setelah menyelesaikan disertasinya tentang perubahan sosial di perdesaan Madiun yang diselesaikannya di Universitas Yale tahun 1975, Ong tidak lagi membuat karya utuh yang mewakili pemikirannya tentang sejarah Indonesia. David Reeve, yang sekarang menulis buku biografi tentang Ong menyebut alasan bahwa posisinya yang tiba-tiba menjadi “mini-selebriti” pada dekade 1980an dan 1990an menjadi faktor yang menyumbang ketiadaan pemikiran lengkap Ong tentang sejarah Indonesia.[1]

Kedua, minatnya yang luas terhadap berbagai isu dalam sejarah Indonesia juga menjadi faktor yang menyulitkan menetapkan satu bentuk pemikiran yang benar-benar dikerjakannya sampai tuntas. Ia adalah seorang penulis produktif dengan pikiran tajam. Sejak menjadi mahasiswa sejarah, ia menjadi kontributor rutin di majalah Star Weekly terkait persoalan-persoalan Tionghoa di Indonesia.[2] Setelah lulus dari studinya di Yale, Amerika Serikat, ia kembali menulis artikel-artikel yang mengisi media massa di Indonesia, sampai masa pensiun dan beberapa tahun sebelumnya kematiannya.[3]

***

Bagaimanapun, ketiadaan satu pemikiran utuh bukan menjadi alasan untuk menyatakan tidak adanya sumbangan Ong terhadap perkembangan historiografi Indonesia.

Kita akan mengawalinya pada Maret 1962, dua tahun sebelum menyelesaikan skripsi sarjana mudanya di jurusan sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ong menulis surat kepada Daniel Lev, tentang kesan-kesan mendalam yang ditemuinya saat melakukan perjalanan di perdesaan Jawa. “Ada banyak hal menarik yang perlu dipelajari berkait sejarah kontemporer orang-orang desa…” tulisnya kepada Lev. “Sampai sekarang, penulisan sejarah yang ada lebih banyak bicara tentang elit, para politisi, tokoh-tokoh nasional, diplomasi dan sebagainya”.[4] Balasan Lev menguatkan pandangan Ong. “Saya merasa hal sama”, tulis Daniel Lev. “Sepertinya memang jarak antara elit dan orang desa begitu jauh, dan betapa sedikitnya pemahaman kalangan elit sekarang tentang kehidupan orang-orang desa”.[5]

Di sini kita mendapatkan kesan bahwa Ong tengah memasuki sebuah wilayah tak bertuan dalam belantara penulisan sejarah Indonesia modern. Sesungguhnya ia tidak sendirian dalam upaya ini. Dalam waktu yang sama, Sartono Kartodirdjo tengah menyusun sebuah disertasi yang mengangkat tema pemberontakan petani di Banten. Disertasi Sartono dengan cukup jelas menempatkan petani di perdesaan sebagai aktor utama sejarah yang menurutnya berbeda dengan perspektif sejarah Neerlandosentris sebagai arus utama dalam historiografi Indonesia masa itu.[6] Namun, Sartono baru menyelesaikan karyanya pada 1966 setelah mempertahankan disertasinya di Universitas Amsterdam.

Dibutuhkan waktu selama dua tahun sebelum Ong menuntaskan pandangannya menjadi karya tulis lengkap. Sepanjang rentang waktu itu, ia membaca Paul Mus berjudul Vietnam: Sociologie d’une guerre (1952). Ong sendiri merasakan bahwa ini adalah karya yang sulit, yang ditulis dengan gaya penulisan esai Perancis abad ke-XVII. Dengan bantuan Benedict Anderson, ia dapat menarik garis besar pemikiran Paul Mus yang menegaskan bahwa desa adalah jantung negara-negara di Asia Timur (dibanding kota untuk pengalaman Eropa Barat) dan bersifat otonom. Kelak, ketika ia kuliah di Universitas Yale, Ong terus mengikuti kuliah-kuliah Paul Mus secara langsung. [7]

“Temple” wonderclub.com

Ia mendapatkan sumber penelitian menarik berupa dokumen-dokumen rahasia residen Jaspers tentang gerakan Samin di pantai utara Jawa (seperti Rembang, Blora, dan Pati, Jawa Tengah), yang didapatnya dari seorang mantan bupati Pati, Jawa Tengah. Lengkaplah sudah. Ong menyelesaikan skripsi sarjana muda dengan judul, Saminisme: Tinjauan Sosial-Ekonomi dan Kebudayaan pada Gerakan Tani dari Awal Abad ke-20. Ia melihat peran penting petani pemilik tanah, bukan buruh tani atau petani tak bertanah, yang menjadi aktor dinamis dalam gerakan itu. Di samping itu, ada persoalan ‘beban pajak kolonial’ yang menurutnya menjadi sumber utama pemberontakan, bukan keyakinan atau kepercayaan penduduk terhadap gagasan Ratu Adil atau mileniarisme seperti yang dikemukakan Sartono Kartodirdjo. [8]

Kita akan menemui kematangan gagasannya seputar isu ini setelah Ong menyelesaikan studinya Universitas Yale. Namun, sebelum sampai pada pembahasan itu, ada baiknya kita mengikuti alur perkembangan intelektual Ong sejak ia menjadi mahasiswa sejarah di Universitas Indonesia.

  

***

Onghokham lahir pada 1 Mei 1933 di kota Surabaya. Ia tumbuh besar dalam lingkungan elite Tionghoa kelas menengah perkotaan yang dekat dengan segala sesuatu yang berbau Barat. Sifat Barat yang menonjol dan berpengaruh terhadap intelektualitasnya adalah pendidikan Eropa di tingkat dasar dan menengah. Sesuai dengan posisi keluarga yang cukup berada untuk zaman itu, Onghokham mendapat kesempatan mengikuti pendidikan dasar dan menengah yang diperuntukkan anak-anak Eropa, yaitu Europeesche Lagere School (ELS) dan Hogere Burger School (HBS) di Surabaya.

Adalah dalam periode pendidikan menengah ini ketertarikannya terhadap sejarah berkembang. Bruder Rosario, guru sejarahnya di HBS, mendorong minat Ong terhadap sejarah. Minat bacanya pun berkembang. Ia melahap novel-novel milik ibunya dan membaca dengan penuh perhatian satu hadiah buku yang bercerita tentang ratu Perancis Marie Antoniette yang mati digilotin dalam Revolusi Perancis (1789-1792). Segala ketertarikan dan minat pada masa remaja tidak otomatis membawa Ong menjadi sejarawan profesional.

Selepas mengikuti pendidikan persamaan setingkat SMA di Bandung, Onghokham mendaftar sebagai mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada Agustus 1955. Pilihan studi hukum sepertinya sejalan dengan harapan keluarga dibanding pilihan pribadi Ong. Ia hanya bertahan sekitar tiga semester saja di Fakultas Hukum, sebelum akhirnya pindah memilih jurusan sejarah sebagai jurusan baru di Fakultas Sastra.

Lompatan besar terjadi pada tahun-tahun ketika Ong mulai menjadi mahasiswa sejarah. Pertama, ia berkenalan dengan G. William Skinner, yang saat itu tengah melakukan penelitian tentang komunitas Tionghoa di Indonesia pada 1957. Ong menawarkan diri bekerja sebagai asisten peneliti Skinner, dan mendapatkan kesempatan membaca arsip-arsip lama tentang peranakan Tionghoa di Indonesia. Dari sumber-sumber arsip itu Ong mendapatkan pengetahuan tentang asimilasi Tionghoa ke dalam budaya lingkungan setempat sebagai sesuatu yang mungkin.

Melalui hubungan perkawinan, agama dan pengangkatan seorang Tionghoa dalam jabatan birokrasi kerajaan Jawa sebelum abad ke-19, mereka dilebur menjadi orang Indonesia ‘asli’ yang tidak lagi dianggap sama dengan leluhur mereka yang telah berabad-abad ditinggalkan. Persoalannya, proses itu seringkali tidak berjalan mulus dengan gejolak perubahan-perubahan sejarah. Kolonialisme Belanda dengan kebijakan segregrasi rasialnya malah mengukuhkan kembali identitas etnis Tionghoa sebagai kelompok minoritas yang jauh dari mayoritas pribumi.

Pada tahun yang sama, Ong juga berkenalan dengan Auwjong Peng Koen (kemudian berganti nama menjadi P.K. Ojong, pendiri harian Kompas) yang menjadi pemimpin redaksi majalah Star Weekly. Auwjong yang menyarankan Ong menulis hasil temuan-temuannya dalam Star Weekly. Dari situ kita mendapatkan pula bagaimana pandangan-pandangan menarik Onghokham tentang kelompok Tionghoa di Indonesia.

Secara garis besar, ada dua tahap perkembangan menarik yang berbeda apabila kita membaca tulisan-tulisan Ong di Star Weekly. Tahapan pertama, meliputi rentang waktu antara tahun 1957 sampai awal 1959, tulisan-tulisan Ong menawarkan kepada pembacanya sebuah pengetahuan ensiklopedis yang luas tentang kelompok Tionghoa di Jawa. Ia mengangkat banyak tema, mulai tradisi dan ritual-ritual Tionghoa di Jawa, hubungan kekeluargaan dan persinggungannya dengan masyarakat pribumi, sampai perubahan-perubahan yang terjadi dari periode pra-kolonial dan di bawah kolonialisme Belanda.

Memasuki tahun 1959 dan dekade awal 1960an, tulisan-tulisan Ong semakin jelas menyatakan pandangan pribadinya terhadap persoalan Tionghoa di Indonesia. Gambaran ini semakin tegas setelah kunjungannya ke Filipina dan tulisan yang terbit pada Oktober 1959 berjudul “Proses Asimilasi Peranakan Tionghoa di Filipina”. Ong menyatakan:

Dari asimilasi keturunan Tionghoa di Filipina kita melihat bahwa keturunan Tionghoa juga dapat dileburkan ke dalam satu masyarakat bukan Tionghoa dan mitos bahwa mereka selalu berpegang teguh pada sifat-sifat dan tradisi-tradisi rasial makin lama makin dihancurkan.[9]

Periode pasca-Filipina adalah periode Ong semakin yakin “bahwa satu-satunya jalan bagi etnis Tionghoa di Indonesia ialah asimilasi atau peleburan 100%, menjadi orang Indonesia “asli”.[10] Renungan setelah kembali dari Filipina diikuti dengan tulisan yang terbit pada April 1960 berjudul “Asimilasi dan Manifesto Politik” dan nada yang lebih provokatif:

Halangan terbesar bagi masyarakat minoritas untuk meleburkan diri adalah kurangnya orientasi mereka ke Indonesia. Pikiran ini dipengaruhi oleh jalan pikiran zaman kolonial ketika memang pemerintah kolonial memberi kesan bahwa perbaikan kedudukan hanya bisa datang dari Tiongkok. Sekarang pikiran ini harus ditinggalkan karena sudah tak sesuai lagi dengan zaman. Pun sekarang perbaikan kedudukan tak sesuai lagi dan juga tak mungkin. Pengertian golonganisme harus lenyap! Golonganisme yang oleh Presiden Sukarno dalam Manifesto Politik dikecam juga sebagai kanker masyarakat.

Jadi, kita mendapatkan gambaran kesadaran intelektual yang terus berkembang, sekaligus transformasi pribadi bagi Ong melepaskan segala latar tradisi keluarga yang menurutnya harus diubah.[11] Ia membangun dunia baru, memimpikan sebuah masyarakat yang jauh lebih besar dan dinamis dibanding lingkungan kecilnya sejak masa kanak-kanak sampai beranjak remaja. Rumusan pemikiran itu tertuang dalam skripsi sarjana lengkap yang ditulisnya pada 1968. Tidak dapat disangkal, skripsi lengkapnya seperti menjadi lompatan yang cukup aneh, yang seperti membalik perkembangan empat tahun sebelumnya ketika ia bicara dengan penuh semangat tentang orang-orang kecil, petani dan penduduk desa.[12]

 

***

Dalam skripsi yang kemudian terbit menjadi buku dengan judul Runtuhnya Hindia Belanda, Ong berbicara banyak tentang para petinggi pemerintah kolonial, diplomat, birokrat, jenderal, dan tokoh-tokoh pergerakan, serta gaya hidup orang-orang Belanda di kota-kota besar. Kita tidak menemukan kisah tentang desa, pertunjukan wayang, para petani, dan perajin desa yang kerap menjadi cerita dalam surat-menyurat dengan sahabatnya Ben Anderson di Cornell. Begitu juga dengan pengalaman gejolak 1965 di pedesaan Jawa dan panggung politik nasional Indonesia yang menjadi kisah horor dalam pengalaman dirinya. Kisah rakyat dan pergolakan dalam kehidupan perdesaan mundur ke belakang sekedar sebagai satu wacana yang disampaikan para pejabat kolonial dan aktivis pergerakan.

sumber gambar: http;//tempo.co

Ia sendiri mengakui dengan terus terang bahwa dalam karya ini ia berdiri berlawanan dengan arus semangat penulisan Indonesiasentris pada dekade tersebut. Ong memiliki alasan khusus tentang arah penulisan itu. “Kita harus mengakui bahwa pemerintah Belanda pernah ada di Indonesia dan merupakan sebagian dari sejarah kita”. Sepertinya ini argumen yang masuk akal.

Runtuhnya Hindia Belanda menyampaikan sebuah gagasan bahwa cepat atau lambat, meski tanpa kedatangan tentara Jepang pun, Hindia Belanda akan goyah menghadapi arus nasionalisme Indonesia yang berkembang pada dekade-dekade terakhir keruntuhan kolonialisme Belanda. Ong seperti memutar mesin waktu menyusuri periode kolonial dekade 1920an dan 1930an, meninggalkan realitas politik Indonesia yang penuh gejolak pada dekade 1960an. Hasil perjalanan itu memberikan gambaran menarik tentang bagaimana “ide Indonesia” mendapatkan konteks yang tepat dalam perkembangan sejarah periode tersebut:

Sejak Sumpah Pemuda 1928 ini kita akan menemukan terus-menerus dan secara hebat perasaan persatuan nasional yang meningkat pada semua kalangan Indonesia yang dapat dilihat pada waktu itu, baik dari golongan Binnenlandsch Bestuur (pamong praja) maupun dari golongan Fraksi Nasional di Volksraad ataupun golongan-golongan lain…Ide “Indonesia” dengan unsur persatuannya berarti melepaskan diri dari persoalan-persoalan daerah, lokal, dan kepribadian. “Kompromi” dari berbagai kepentingan yang harus dicari, keinginan-keinginan sendiri harus dibatasi untuk masyarakat yang lebih besar.[13]

Sayup-sayup dalam konsepsi itu kita mendapatkan gema pikiran Ong tentang asimilasi seperti yang pernah ditulisnya dalam artikel-artikel di Star Weekly. Gagasan asimilasi bagi kelompok Tionghoa dalam pandangan Ong berpusar pada penerimaan masyarakat Tionghoa terhadap bentuk masyarakat baru Indonesia (bukan etnis-etnis yang ada di dalamnya), dan meninggalkan tradisi mereka sendiri. Ide tentang “Indonesia”, yang diberi tanda petik dalam karya skripsi Ong, memiliki kesejajaran bagaimana setiap kelompok “melepaskan diri dari persoalan-persoalan daerah, lokal, dan kepribadian”.

 

***

Sejak 1968, Onghokham melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Yale, Amerika Serikat. Di kampus itu ia mengikuti kuliah-kuliah Paul Mus yang menjadi perhatiannya saat masih menjadi mahasiswa sejarah di UI. Ia menyelesaikan disertasinya pada 1975 dengan mengangkat tema lama tentang dinamika hubungan antara petani dan pryayi Jawa di bawah kekuasaan kolonialisme Belanda abad ke-19.

Sumber inspirasi penulisan disertasi tersebut berangkat dari pemikiran Barrington Moore tentang hubungan bangsawan dan petani dalam pembentukan dunia modern, dan juga karya Eric Wolf tentang Peasant Wars dalam sejarah dunia. Ong menjadikan gagasan Moore sebagai titik tolak analisis terhadap pengalaman kolonialisme Belanda di Jawa yang menyebabkan kemerosotan peran elite penguasa tradisional berhadapan dengan sistem birokrasi kolonial yang modern, dan pemberontakan petani yang muncul akibat perubahan tata politik agraria kolonial yang semakin meningkatkan beban pajak (dalam bentuk kerja wajib di perkebunan) terhadap para petani penggarap dan pemilik tanah di wilayah pedesaan.

Ia sendiri merasa girang menyelesaikan disertasi itu. “Saya menyukainya”, tulis Ong kepada sahabatnya.[14] Bagaimanapun, disertasi itu masih belum terlalu rapi untuk mewakili sebuah pikiran utuh. Ia perlu perbaikan di sana-sini.

Dalam proses, Ong tidak kunjung menyelesaikan perbaikannya. Ia malah menulis tema-tema terpisah yang merupakan penajaman pandangan dalam disertasinya.   Hasilnya adalah makalah berjudul “The Pulung Affair: A Tax Payers Revolt from Patik—Aspects of Nineteenth Century Rural Politics in Java”.

Makalah itu disampaikannya dalam konferensi di Belanda setahun setelah menyelesaikan disertasinya.[15] Ada sedikit humor dalam kisah yang diangkatnya. Ia merasa berhasil membalikkan posisi historiografi lama yang menempatkan orang-orang Belanda yang selalu dianggap rasional menjadi tidak lebih sebagai sosok bodoh dan irasional, terkungkung dalam ideologi dan prasangka mereka sendiri. Sementara petani dalam pandangan Ong memiliki alasan rasional atas pemberontakan mereka. Dalam kata-katanya, “ini adalah sebuah upaya menampilkan rakyat sebagai rasionil dan yang di atas tidak, malahan buta”. Ia pun mengolok-olok mantan gurunya, Resink, yang merasa tersinggung sebagai orang Belanda dengan tema dalam makalahnya.

 

Sumber gambar: Goodreads

Setahun kemudian Ong menerbitkan tulisannya berjudul “The Inscrutable and the Paranoid: An Investigation into the Sources of the Brotodiningrat Affair”. Tulisan ini terbit pertama kali dalam publikasi almamaternya di Yale tentang transisi sejarah Asia Tenggara pada 1978.[16] Dari keseluruhan tulisan-tulisan Ong, “Brotodingrat Affair” menjadi karya terpenting yang menjadi sumber rujukan bagi para sarjana Indonesia dan luar Indonesia dalam memahami sejarah Asia Tenggara dan kolonialisme abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ia menyoroti sebuah pertentangan menarik antara para bupati Jawa yang semakin merosot kekuasaan politik mereka dengan para pejabat Belanda. Kisah Brotodiningrat menggambarkan secara rinci upaya sia-sia pemimpin tradisional Jawa—golongan pryayi—untuk kembali menghidupkan kekuasaan tradisional mereka berhadapan dengan mesin birokrasi kolonial yang semakin canggih.

***

Ada dua catatan untuk memberikan kita gambaran tentang pokok pemikiran penting Ong dalam historiografi Indonesia. Pertama, tinjauannya terhadap hubungan negara dan petani, khususnya pada abad ke-19, membawanya pada satu kesimpulan bahwa pemberontakan petani—dan konsepsi perlambang Jayabaya yang menjadi ideologi populer perlawanan—adalah gejala yang menunjukkan kenyataan tentang ideologi anti-negara di kalangan petani yang berakar pada masalah pajak. Ia menolak pandangan bahwa sumber pemberontakan terletak pada ideologi mesianisme atau gagasan keagamaan yang berakar pada tradisi Hindu-Islam di Jawa, tetapi lebih pada persoalan pajak tinggi yang menjadi tuntutan utama rezim kolonial.

Kedua, pemberontakan petani bukan sebuah gejala terpisah berkait dengan struktur kekuasaan dan kebijakan negara terhadap pertani. Masing-masing adalah faktor yang saling menentukan arah dan perkembangan keduanya. Ilustrasi tentang persoalan ini cukup gamblang dituangkannya dalam beberapa makalah seperti Pulung Affair dan kisah tentang Brotodiningrat yang memukau. Sebagai masyarakat agraris, dan dalam peradaban agraris itu, desa menempati unsur penting yang membentuk dinamika sosial dan politik yang berpengaruh pada lapisan atas di kalangan elite maupun struktur kekuasaan modern yang diwakili kolonialisme Belanda, dan kemudian Republik Indonesia sebagai pewarisnya. Adalah dalam dua arah pemikiran itu Ong meninggalkan jejaknya yang penting dalam historiografi Indonesia.

 

(Artikel ini telah terbit dalam buku  Leo Suryadinata & Didi Kwartanada. Tionghoa dalam Keindonesiaan. Peran dan Kontribusi bagi Pembangunan Bangsa. Jilid I.  Yayasan Nabil, Jakarta. 2016. Diterbitkan ulang di sini untuk kepentingan pendidikan)

 

[1] David Reeve, “Kata Pengantar” dalam Andi Achdian. Sang Guru dan Secangkir Kopi. Sejarawan Onghokham dan Dunia Baru Bernama Indonesia. Penerbit Eterna, 2011. Jakarta. Dalam salah satu surat kepada sahabatnya ia menulis, “Di jalanan orang mengenal saya, terkadang memalukan sekali, seperti layaknya bintang film. Saya pun harus bersikap seolah-olah mengenal mereka”. Surat Ong kepada Benedict Anderson, 20 April 1978

[2] Tulisan-tulisan itu telah diterbitkan dalam satu buku yang mencakup periode 1957-1960. Lihat Onghokham. Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa. Komunitas Bambu, Jakarta. 2009.

[3] Ada dua karya Onghokham yang merupakan kumpulan tulisannya yang tersebar di media massa. Dari Soal Pryayi Sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara (Penerbit Buku Kompas, 2002) dan Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang (Tempo, 2003).

[4] Surat Onghokham kepada Daniel Lev. Maret 1962.

[5] Surat Dan Lev kepada Onghokham, 26 May 1962.

[6] Sartono Kartodirdjo. The Peasants’ Revolt of Banten in 1888, It’s Conditions, Course and Sequel: A Case Study of Sosial Movements in Indonesia. Disertasi ini menjadi batu loncatan dalam studi sejarah Indonesia.Menurutnya, penulisan disertasinya didorong oleh hasrat melancarkan protes terhadap penulisan sejarah Indonesia yang konvensional dan Neerlandosentris.

[7] Paul Mus (1902 – 1969) adalah sarjana Perancis yang memiliki minat studi terhadap Vietnam dan kebudayaan Asia Tenggara. Tulisan Mus yang dimaksud Ong sebelumnya adalah tulisan berseri yang terbit di Bulletin de l’Ecole Française d’Extreme Orient (BEFEO) nomor 32 dan 34 (1932–1934). Tulisan itu kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul Barabudur dengan kata pengantar dari ilmuwan Perancis yang menekuni sejarah Nusantara, G. Coedes, pada 1935. Lihat David Chandler. “Paul Mus (1902-1969): A Biographical Sketch” dalam Journal of Vietnamese Studies, Vol. 4, No. 1 (Winter 2009), hal. 149-191. ff. 19 & 20. & Onghokham, 2002. Op.cit,. hal. xxii-xxiii. Ulasan tentang bagaimana pengaruh Paul Mus terhadap perkembangan awal pemikiran Onghokham dapat dilihat dalam kajian David Reeve tentang sosok Onghokham (forthcoming).

[8] Dalam pandangannya, Ong menekankan bahwa petani pemilik tanah (sikep) adalah kelompok yang memiliki alasan kuat untuk melawan kekuasaan negara dibanding petani numpang atau buruh tani. Radikalisme anti-kolonial berasal dari kelompok ini. Persoalannya terletak pada pajak kolonial yang membebankan pajak, dalam bentuk kerja wajib, untuk para pemilik tanah di perdesaan. Sedangkan para petani numpang atau mereka yang tidak bertanah, bebas dari beban itu. Lihat Onghokham. Saminisme: Tinjauan Sosial-Ekonomi dan Kebudayaan pada Gerakan Tani dari Awal Abad ke-20. Skripsi sarjana muda, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. 1964.

[9] Onghokham, 2009. Op.cit. Hal. 134.

[10] Ibid., “Asimilasi Golongan Peranakan”, hal. 157.

[11] Namun tidak seperti Auwjong Peng Koen yang mengganti namanya menjadi P.K. Ojong, Ong tidak mengganti nama, Dia hanya menggabungkan nama Tionghoanya menjadi satu– Onghokham– untuk mempertahankan identitas ketionghoaannya, meniru keturunan Tionghoa di Filipina. Ong juga tidak aktif dalam LPKB. Nampaknya Ong masih ragu-ragu dalam hal asimilasi total. Bahkan dalam karyanya sesudah tahun 1960, dia tidak lagi menyebut-nyebut asimilasi. Penulis mengucapkan terima kasih atas komentar Ketua Redaksi, Prof. Leo Suryadinata atas komentarnya ini.

[12] Skripsi itu kemudian diterbitkan dengan judul Onghokham. Runtuhnya Hindia Belanda. Gramedia, Jakarta. Cetakan Ketiga. 1999. Di tahun 2014 buku ini diterbitkan kembali oleh Gramedia. Buku itu terbit pertama kali pada 1986, dan sudah jelas pengantar itu ditulis lebih dari satu dekade setelah Ong menyusun skripsinya.

[13] Ibid., hal. 88

[14] Surat kepada Benedict Anderson, 24 Maret 1975.

[15] Lihat “The Pulung-Affair: A Tax-Payers’ Revolt from Patik—Aspects of Nineteenth Century Rural Politics in Java” aslinya terbit dalam Papers of the Dutch-Indonesian Historical Conference held at Noordwijkerhout, the Netherlands 19 to 22 May 1976. Bureau of Indonesian Studies, Leiden, 1978. Kemudian diterbitkan ulang dalam Onghokham. The Thugs, The Curtain Thief, and the Sugar Lord: Power, Politics, Culture in Colonial Java. Metafor Publishing, Jakarta, 2003, h. 77-109.

[16] Pertama kali terbit dalam Ruth McVey, Adrienne Suddard dan Harry J. Benda. Southeast Asian Transitions: Approaches through Social History. Yale University Press, New Haven, 1978. Kemudian diterbitkan ulang dalam Onghokham. The Thugs, The Curtain Thief, and the Sugar Lord, h. 3-74.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *