A Self-made man who changed the world

 

W.W. Norton & Company, USA. Paperback. September 2011. ISBN: 978-0-393-34066-2, 448 halaman.

The Fiery Trial (TFT) adalah buku yang mengesankan. Ia menampilkan kisah tentang kiprah Presiden ke-16 Amerika Serikat, Abraham Lincoln, dalam serangkaian episode perang saudara dan pertarungan politik yang memecah pihak Selatan dan Utara terkait penghapusan perbudakan. Kebijakannya menghapuskan perbudakan membuat nama Lincoln terukir sebagai salah satu negarawan terbesar Amerika Serikat. Meski penulisnya secara terbuka menyatakan simpati pribadi terhadap Lincoln, buku ini tetap merupakan biografi serius yang ditulis dengan sudut pandang kesarjanaan yang mendalam. Ia tidak jatuh menjadi sekedar glorifikasi individu dalam sejarah.

“Sesuatu yang menarik tentang Lincoln”, tulis Eric Foner, adalah “kemampuan pribadinya untuk terus berkembang”. Ini adalah titik tolak menarik yang mengingatkan pembaca buku ini untuk tetap menjaga kewarasan dalam memandang Lincoln sebagai pribadi yang penuh warna dibanding sekedar mengulang rangkaian mitos tentang Lincoln dalam penulisan sejarah Amerika. Terkait historiografi, jerat kesulitan bagi para sejarawan menulis sosok Lincoln disampaikan dengan menarik oleh Foner. “Para politisi, mulai dari kalangan konservatif sampai komunis, aktivis-aktivis hak sipil dan pendukung segregasi, anggota gereja Protestan dan kaum tak beragama, semua mengklaim bahwa Lincoln adalah milik mereka.” Jadi, sosok Lincoln akan selalu tampil dengan wajah berbeda tergantung siapa dan dari sudut pandang apa seseorang menulis tentangnya. “Kita menganggap mengenal Lincoln, karena saat melihat sosoknya, sesungguhnya kita sedang menemukan diri kita sendiri. Dalam kaitan ini Lincoln senantiasa relevan. Ia adalah sosok masa kini dalam hidup kita”, tulis Foner.

II

Eric Foner adalah sejarawan dengan fokus kajian pada periode perbudakan (periode abolisionis) dalam sejarah Amerika Serikat. Ia pernah menjabat sebagai ketua American Historical Association, dan mengajar di jurusan sejarah di Columbia University. Foner juga pernah menjadi murid Howard Zinn, sejarawan terkemuka AS, aktivis anti perang dan seorang sosialis, dengan buku berjudul A People’s History of the United, yang memecahkan rekor penjualan buku sejarah paling laris di AS mencapai lebih satu juta eksemplar. Seperti gurunya, Foner bukan sekedar seorang sejarawan yang disibukan dengan upaya mengejar karir profesional. Ia adalah pengajar sejarah dengan keyakinan bahwa “pengajaran yang baik terletak pada kepedulian yang tulus dan kemampuan menyampaikan kecintaan terhadap sejarah kepada para mahasiswa.” Ia juga seorang aktivis dan intelektual dengan kepedulian terhadap beragam masalah sosial dalam kehidupan kontemporer masyarakat Amerika Serikat.

 

Sebagai karya kesarjanaan, Fiery Trial tetap menyisakan ruang sejumlah pertanyaan ketika pembaca sampai pada lembar terakhir buku ini. Begitulah kesan pembaca setelah menikmati sebuah buku yang baik. TFT menjadi ajang bagi Foner untuk menjelaskan tanpa rasa sungkan sosok Lincoln sebagai manusia biasa. Setiap peristiwa tampil dengan detail fakta yang kaya tanpa jatuh menjadi sekedar parade peristiwa dari serangkaian tindakan manusia. Dengan cara itu Foner menyuguhkan kepada pembacanya berbagai persoalan tentang bagaimana sikap seorang pemimpin terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya.

Tidak dapat disangkal, sampai sekarang Lincoln telah dipandang sebagai sosok pembebas perbudakan dalam sejarah AS. Ada kenyataan yang dapat dipertanggungjawabkan dari pandangan itu, tetapi ada pula rangkaian mitos yang menyelimuti kesadaran sejarah orang Amerika tentang Lincoln. Foner menunjukkan bahwa sejak masa awal keterlibatannya dalam dunia politik, Lincoln bukan seorang pendukung emansipasi. Bahkan terdapat pandangan-pandangan pribadi Lincoln yang memiliki kecenderungan rasial dan diskriminatif terhadap warga kulit hitam. Foner juga menunjukkan bahkan sampai tahun-tahun awal Lincoln menjabat sebagai presiden AS, beberapa kebijakannya memiliki dampak merugikan para pendukung abolisionis yang menginginkan segera penghapusan perbudakan di AS saat itu.

III

Sosok Lincoln dalam buku ini tampil sebagai politisi penuh perhitungan. Ada sejumlah dilema moral yang muncul terkait masalah perbudakan, tetapi ada juga persoalan politik real yang menjadi landasan seorang pemimpin bertindak.

Sepanjang periode perang saudara antara Unionis (mewakili kekuatan pemerintah federal dari pihak utara) dan Konfederasi (yang menginginkan pemisahan diri dan mempertahankan lembaga perbudakan di bagian selatan), desakan-desakan membuat kebijakan drastis dari kedua belah pihak mengalir tanpa henti. Lincoln bergeming. Ia memiliki kesadaran penuh bahwa “membuat sebuah kebijakan yang tidak dapat dijalankan hanya sekedar menunjukkan kelemahan pribadi dan membuka pintu serangan lawan-lawan politiknya.” Kesadaran itu pula yang membawa setiap kebijakan Linconl dalam garis pasang sejarah tanpa meninggalkan celah bagi lawan politiknya untuk menuntut kompromi atau mundur dari keputusan yang telah dibuat.

Gambaran itu bisa dilihat dari perkembangan yang terjadi sepanjang periode Perang Saudara. Apabila pada masa awal perang landasan moral peperangan berpijak pada persoalan “menjaga keutuhan” dari ancaman pemisahan diri negara bagiannya, memasuki periode akhir perang landasannya berkembang menjadi “perang membebaskan perbudakan.” Keputusan-keputusan Lincoln menjadi tonggak yang mengokohkan laju pergerakan tersebut. Apabila kebijakan-kebijakan Lincoln pada masa awal terkait masalah perbudakan berisi konsesi dan tawaran kepada pihak Konfederasi dan negara-negara bagian di selatan lainnya untuk “dengan sukarela mengakhiri perbudakan dengan kompensasi terhadap budak yang mereka bebaskan,” menjelang akhir perang Lincoln membubuhkan tanda tangan di atas kertas yang menjadikan keputusan penghapusan total perbudakan dalam kehidupan masyarakat Amerika tanpa konsesi apapun.

Begitu juga dengan persoalan yang muncul seiring bergulirnya tuntutan penghapusan perbudakan. Meski orang-orang kulit putih dari pihak utara menginginkan penghapusan perbudakan, tetapi mereka juga tidak menginginkan keberadaan budak-budak kulit hitam yang telah dibebaskan dalam kehidupan masyarakat mereka. Agenda kolonisasi (seperti Haiti dan wilayah Karibia lainnya) menyiapkan tempat baru bagi pemukiman budak yang telah dibebaskan merupakan langkah yang paling diterima para politisi dan kalangan masyarakat kulit putih di utara dalam seruan anti perbudakan mereka. Seperti kebanyakan warga kulit putih lainnya, Lincoln pun berada dalam arus pemikiran ini. Sepanjang dua pertiga masa pemerintahannya ia mencanangkan agenda sebagai jalan keluar setelah penghapusan perbudakan. Sedikit perbedaan dalam visi Lincoln tentang kolonisasi adalah penempatan budak yang telah dibebaskan di koloni-koloni baru harus dilakukan secara “sukarela.”

Gagasan tentang kolonisasi terus mewarnai kebijakan Lincoln bahkan sampai ia menandatangani keputusan penghapusan perbudakan di AS. Bagaimanapun, seperti disampaikan Foner yang menegaskan aspek penting kenegarawanan Lincoln, visi pribadi dan kebijakan politik Lincoln selalu berubah. Namun, ini bukan sebuah perubahan yang menarik mundur langkah maju, tetapi sebuah perubahan yang memancang tiang-tiang yang kokoh untuk gerak maju sejarah tak tertahankan. Sampai akhir periode perang saudara, Lincoln meninggalkan ide kolonisasi dan memulai pandangan baru bahwa para budak yang dibebaskan akan tetap tinggal dan diintegrasikan dalam kehidupan masyarakat Amerika Serikat.

IV

Membaca buku ini memberi pintu pemahaman menarik tentang bagaimana seorang pemimpin membentuk wujud perkembangan sejarah dalam periode kekuasaannya. Kita pun dibuat sadar bahwa setiap orang bisa berbuat salah, termasuk para pemimpin yang paling bijak sekalipun. Persoalannya adalah apakah sepanjang periode kekuasaannya seorang pemimpin dapat terus melihat cahaya masa depan yang baik untuk negerinya, dan menjadi penumpang dari kereta sejarah yang terus melaju dalam perjalanan tanpa akhir.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *